Kesepian merupakan pengalaman yang menyakitkan, dan dapat menjangkiti hati setiap orang tanpa kenal usia, golongan, bahkan tingkat kerohanian seseorang. Orang yang mengalami kesepian, akan merasakan kekosongan jiwa sehingga sulit berkomunikasi dengan orang lain. Berbagai perasaan sedih, putus asa, gelisah, kuatir, dan keinginan untuk dikasihi atau disayangi begitu kuat menyelimuti hati seseorang yang dilanda kesepian. Sebagai akibatnya, seseorang yang kesepian akan merasa "sendiri" meski berada di tengah-tengah keramaian banyak orang. Lebih parah lagi, ia dapat merasa diri ditolak dan ditinggalkan.
Perasaan ditolak tersebut dapat berlanjut sehingga lahir perasaan tidak berharga (social loneliness). Dan usaha orang untuk mengatasi perasaan "tidak berhagrga" ini, dilakukannya dengan menyibukkan diri dalam berbagai pertemuan atau kegiatan misalnya, atau malah terjerumus ke dalam prostitusi (perek), minum-minuman keras, obat-obat bius, ganja, narkotika, shabu-shabu, dan bahan-bahan lain yang sejenisnya.
Kesepian bagi Orang Kristen
Alkitab tidak mengatakan bahwa kesepian adalah sikap hati yang berdosa, tetapi akibat perbuatan dosa - yaitu pelanggaran terhadap Perintah Allah yang dilakukan manusia pertama dengan diputusnya hubungan yang harmonis dengan Allah (Kej.3:8,10,12,dst). Ketakutan menandai adanya dosa, tetapi ketakutan itu sendiri bukan dosa. Demikian pula halnya dengan kesepian. Kesepian menandai adanya dosa, yakni sikap hati yang menuduh diri dengan tidak semestinya. Padahal Allah menciptakan kita dengan "amat baik" (Kej.1:31), bahkan "duplikat" Allah (gambar Allah, Kej.1:26), yang untuk mengasihi sesama dipakailah "standar diri" yakni mengasihi diri sendiri (Mat.22:39).
Yesus merasa "sendiri" di waktu penyaliban berlangsung, sebagai puncak penderitaan-Nya di muka bumi ini (Mat.26:46). Perasaan-Nya yang sepi adalah akibat dosa seisi dunia yang ditanggung-Nya. Sebegitu dahsyatnya dosa merusak jiwa manusia, sehingga Yesus pun berkata "Eli, Eli, lama sabakhtani" yang artinya "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku" yang diserukan-Nya dengan suara nyaring - pertanda kepedihan hati-Nya yang sangat mendalam. Yesus simpati (ikut merasakan dengan melibatkan emosi) dengan penderitaan bathin manusia. Yesus memahami kesepian kita. Jadi, Ia yang sudah mengalami kesepian yang memuncak dan memenangkannya akan memenangkan kita juga. Percayakah Anda pada kekuatan Yesus yang menyembuhkan?
Paulus, seorang rasul Allah yang besar dalam pekerjaan Tuhan, mengalami kesepian di saat-saat menjelang berakhirnya kehidupan dan pelayanannya (2Tim.4:9-11). Ia menulis surat kepada Timotius, supaya segera datang menjumpai dirinya yang telah ditinggalkan oleh saudara-saudara sepanggilan, baik Demas yang tidak setia kepada Tuhan, maupun Kreskes dan Titus yang pergi melayani di kota lain. Ia, yang biasa hidup bersekutu, kini hanya tinggal bersama Lukas seorang. Ini sangat mirip dengan kehidupan sekarang, ketika seseorang memasuki masa-masa pensiun atau retired. Orang tua paling banyak mengalami gejala ini.
Oleh karena itu, pemulihan terhadap sikap hati yang mengalami kesepian hanya dapat dilakukan dengan baik jika hubungan dengan Allah juga dipulihkan. Hubungan yang baik dengan Allah akan menumbuhkan Makna Hidup yang bertambah (Hos.6:6; Yer.7:3 dst).
Yesus, dalam segala kepedihan hati yang tak terukur dalamnya, menjadi "lain" ketika Ia menyerahkan diri-Nya kepada Allah, dengan berkata: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk.23:46). Segera sesudah Yesus menyerahkan diri-Nya (kemanusiaan-Nya) kepada Allah, Ia mampu melewati pergumulan itu dengan kemenangan yang dijanjikan Allah.
Paulus, yang kesepian di masa-masa tuanya, pada akhirnya meraih kemenangan yang gilang-gemilang. Rahasia kesuksesannya mengatasi kesepian adalah karena orientasi hidupnya yang dipusatkan kepada Yesus Kristus (Kis.20:24). Paulus berhasil Memaknai hidupnya dengan pekerjaan baik yang disediakan Allah di dalam Kristus (Ef.2:10). Paulus berhasil sampai akhir hidupnya, dan kesepian pun tidak menguasainya (2Tim.4:7).
Perasaan ditolak tersebut dapat berlanjut sehingga lahir perasaan tidak berharga (social loneliness). Dan usaha orang untuk mengatasi perasaan "tidak berhagrga" ini, dilakukannya dengan menyibukkan diri dalam berbagai pertemuan atau kegiatan misalnya, atau malah terjerumus ke dalam prostitusi (perek), minum-minuman keras, obat-obat bius, ganja, narkotika, shabu-shabu, dan bahan-bahan lain yang sejenisnya.
Kesepian bagi Orang Kristen
Alkitab tidak mengatakan bahwa kesepian adalah sikap hati yang berdosa, tetapi akibat perbuatan dosa - yaitu pelanggaran terhadap Perintah Allah yang dilakukan manusia pertama dengan diputusnya hubungan yang harmonis dengan Allah (Kej.3:8,10,12,dst). Ketakutan menandai adanya dosa, tetapi ketakutan itu sendiri bukan dosa. Demikian pula halnya dengan kesepian. Kesepian menandai adanya dosa, yakni sikap hati yang menuduh diri dengan tidak semestinya. Padahal Allah menciptakan kita dengan "amat baik" (Kej.1:31), bahkan "duplikat" Allah (gambar Allah, Kej.1:26), yang untuk mengasihi sesama dipakailah "standar diri" yakni mengasihi diri sendiri (Mat.22:39).
Yesus merasa "sendiri" di waktu penyaliban berlangsung, sebagai puncak penderitaan-Nya di muka bumi ini (Mat.26:46). Perasaan-Nya yang sepi adalah akibat dosa seisi dunia yang ditanggung-Nya. Sebegitu dahsyatnya dosa merusak jiwa manusia, sehingga Yesus pun berkata "Eli, Eli, lama sabakhtani" yang artinya "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku" yang diserukan-Nya dengan suara nyaring - pertanda kepedihan hati-Nya yang sangat mendalam. Yesus simpati (ikut merasakan dengan melibatkan emosi) dengan penderitaan bathin manusia. Yesus memahami kesepian kita. Jadi, Ia yang sudah mengalami kesepian yang memuncak dan memenangkannya akan memenangkan kita juga. Percayakah Anda pada kekuatan Yesus yang menyembuhkan?
Paulus, seorang rasul Allah yang besar dalam pekerjaan Tuhan, mengalami kesepian di saat-saat menjelang berakhirnya kehidupan dan pelayanannya (2Tim.4:9-11). Ia menulis surat kepada Timotius, supaya segera datang menjumpai dirinya yang telah ditinggalkan oleh saudara-saudara sepanggilan, baik Demas yang tidak setia kepada Tuhan, maupun Kreskes dan Titus yang pergi melayani di kota lain. Ia, yang biasa hidup bersekutu, kini hanya tinggal bersama Lukas seorang. Ini sangat mirip dengan kehidupan sekarang, ketika seseorang memasuki masa-masa pensiun atau retired. Orang tua paling banyak mengalami gejala ini.
Oleh karena itu, pemulihan terhadap sikap hati yang mengalami kesepian hanya dapat dilakukan dengan baik jika hubungan dengan Allah juga dipulihkan. Hubungan yang baik dengan Allah akan menumbuhkan Makna Hidup yang bertambah (Hos.6:6; Yer.7:3 dst).
Yesus, dalam segala kepedihan hati yang tak terukur dalamnya, menjadi "lain" ketika Ia menyerahkan diri-Nya kepada Allah, dengan berkata: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk.23:46). Segera sesudah Yesus menyerahkan diri-Nya (kemanusiaan-Nya) kepada Allah, Ia mampu melewati pergumulan itu dengan kemenangan yang dijanjikan Allah.
Paulus, yang kesepian di masa-masa tuanya, pada akhirnya meraih kemenangan yang gilang-gemilang. Rahasia kesuksesannya mengatasi kesepian adalah karena orientasi hidupnya yang dipusatkan kepada Yesus Kristus (Kis.20:24). Paulus berhasil Memaknai hidupnya dengan pekerjaan baik yang disediakan Allah di dalam Kristus (Ef.2:10). Paulus berhasil sampai akhir hidupnya, dan kesepian pun tidak menguasainya (2Tim.4:7).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar